SOCIAL RESPONSIBILITY AND MANAGERIAL ETHICS


·         What is social obligation?
Social obligation involves a firm engaging in social actions because of its obligation to meet certain economic and legal responsibility.

·         What is social responsiveness?
Social responsiveness involves a firm engaging in social actions in response to some popular social need. 

·         What is social responsibility?
Social responsibility is a business’s intention to pursue long-term goals that are good for society.

DIVERSE WORKFORCE


·         Define workplace diversity and explain why managing it is so important!
Workplace diversity is the ways in which people in an organization are different from and similar to one another. Managing diversity is imporatant for three resons:
1.       People management benefits
Better use of employee talent, increased quality of team problem-solving efforts, and ability to attract and retaindiverse employees.
2.       Organizational perform benefits
Reduced cost, enhanced problem solving ability, and improved
3.       Strategic benefits
Increased understanding of diverse maketplace, potential to improve sales and market share, competitive advantage because of improved innovation efforts, and viewed as moral and ethical.

GLOBAL MANAGEMENT


·         Contrast ethnocentric, polycentric, and geocentric attitudes towards global business.
§  Parochialism is viewing the world solely through your own eyes and perspectives and not recognizing that others have different ways of living and working. An ethnocentric attitudes is the parochialistic belief that the best work approaches and practices are those of the home country.
§  A polycentric attitude is the view that the managers in the host country know the best work approaches and practices for running their business.
§  A geocentric attitude is a world-oriented view that focuses on using the best approaches and people from around the globe.

CONSTRAINTS AND CHALLENGES FOR THE GLOBAL MANAGER


·         Contrast the actions of managers according to the omnipotent and symbolic views.
According to the omnipotent view, managers are directly responsible for an organization’s success or failure. The symbolic view argues that much of an organization’s success or failure is due to external forces outside managers’ control.
The two constraints on managers’ discrection are the organization’s culture (internal) and the environment (external). Managers are not totally constrained by these two factors since they can and do influence their culture and environment.

FOUNDATIONS OF MANAGEMENT AND ORGANIZATIONS


·         What is management?
Management is an knowledge and action about coordinating and overseeing the work activities of others so that their activities are completed efficiently and effectively.

·         What is an organization?
Organization has three characteristics, these are:
1.       A distinctive purpose
2.       Composed of people
3.       A deliberate strucuture
Many of today’s organizations are more open, flexible, and responsive to changes than organizations once were.

BENTUK-BENTUK UMUM ARGUMEN YANG BENAR


Ada tiga bentuk dasar dari silogisme hipotetis, yaitu modus ponens yang mengafirmasi anteseden, modus tollens yang menolak konsekuen, dan silogisme hipotetis dengan rantai kondisional. Berikut ini ketiga bentuk dasar silogisme hipotetis.

SILOGISME HIPOTESIS


Dalam logika, silogisme hipotetis memiliki dua penggunaan. Dalam logika proposisional, silogisme mengungkapkan aturan-aturan penyimpulan, sedangkan dalam sejarah logika ia berperan sebagai teori konsekuensi. 

Silogisme hipotetis berbeda dengan silogisme kategoris dan tunduk kepada aturan tersendiri. Dalam silogisme hipotetis, premis pertama (premis mayor) menampilkan kondisi yang tak tentu (“jika P, maka Q”) atau masalah (“atau P atau Q”; “P dan Q tidak dapat benar dua-duanya”). Premis pertama itu harus diselesaikan secara memadai oleh premis kedua (premis minor) sehingga kesimpulan yang sahih dapat dihasilkan. Penyelesaian masalah selalu dalam bentuk afirmasi atau negasi.  

DELAPAN HUKUM SILOGISME


Silogisme tunduk kepada delapan hukum yang masing-masing diterapkan berikut ini. (Keterangan: P = Predikat/mayor; S = Subjek/minor; M = Term tengah (Middle term); u = Universal; p = partikular; + = afirmatif; dan - = negatif.)

Hukum  1: Silogisme hanya mengandung tiga term.
Semua tanaman  (M1)  adalah hidup  (P).
Semua batu (S)  adalah mineral  (M2).
Jadi:  Semua batu  (S)  adalah/tidak (?)  hidup (P).

Buku (P) mempunyai halaman  (M).
Rumah  (S)  mempunyai halaman  (M).
Jadi:  Rumah  (S)  adalah buku (P).

Halaman di sini bermakna ganda (equivocal), silogisme di atas mempunyai  empat term.

BENTUK SILOGISME KATEGORIS


Bentuk dasar silogisme kategoris ialah: Jika A adalah bagian dari C maka B adalah bagian dari C (Adan B adalah anggota dari C). Silogisme kategoris ini mengikuti hukum “Semua atau Tidak Sama Sekali” (All or None atau Dictum de Omni et Nullo); artinya, berlaku untuk seluruh anggota kelas, atau tidak sama sekali. Tidak dikenal “ada sebagian” dan “tidak ada sebagian”. Sebagai contoh, kalau kelas ikan memiliki insang, maka tidak mungkin ada anggotanya yang tak berinsang; dan kalau kelas merpati adalah burung, maka tak mungkin ada merpati yang bukan burung.

DEFINISI SILOGISME


Silogisme berasal dari kata Yunani syllogismos yang berarti ‘kesimpulan’. Silogisme adalah jenis argumen logis yang kesimpulannya diturunkan dari dua proposisi umum (premis) yang berbentuk prosisi kategoris.
Dilihat dari bentuknya, penilaian terhadap silogisme adalah sahih (valid) atau tidak sahih (invalid). Silogisme sahih jika kesimpulannya dibuat berdasarkan premis-premisnya dengan bentuk-bentuk yang tepat. Sedangkan penilaian benar (true) diberikan jika silogisme valid dan klaimnya akurat (informasinya sesuai dengan fakta). Perhatikanlah contoh berikut.

DEFINISI DAN KARAKTERISTIK ARGUMEN DEDUKTIF


Deduksi adalah bentuk argumen yang kesimpulannya niscaya mengikuti premis-premisnya. Lazimnya deduksi juga dipahami sebagai pembuatan pernyataan khusus berdasarkan pernyataan-pernyataan yang lebih umum. Pernyataan khusus itu disebut kesimpulan dan pernyataan-pernyataan yang lebih umum disebut premis. Dalam deduksi kesimpulan diturunkan dari premis-premisnya. Menerima premis tetapi menolak kesimpulan adalah tidak konsisten.

W.D ROSS MENGENAI INTUISI DAN KEWAJIBAN


Telah dibahas dua aliran besar dalam filsafat moral, yakni pandangan deontologi dengan pandangan konsekuensialis. Dalam bagian ini akan dibahas tentang bagaimana pandangan moral intuitif dari seorang etikus bernama W.D Ross. Bila Kant menegaskan bahwa rasio praktis memungkinkan kita memisahkan mana kebaikan dan mana keburukan, atau maxim kewajiban yang harus kita lakukan, dalam pandangan Ross, ia menggunakan penjelasan intuisi. Apa yang dimaksud dengan intuisi?

JOHN STUART MILL DAN KONSEP ETIKA UTILITARIAN


Teori moral dalam filsafat dapat dipahami menjadi dua aliran besar, yang pertama adalah deontologis, seperti yang telah dibahas pada bagian Immanuel Kant, yang kedua adalah kaum konsekuensialis. Apa yang dimaksud dengan etika konsekuensialis? Pandangan konsekuensialis menyatakan bahwa segala tindakan dianggap bernilai secara moral bila mempertimbangkan hasil akhir dari tindakan tersebut. Tentunya pendekatan konsekuensialis kaum utilitarian sangat bertolak belakang dengan konsep imperatif dari Immanuel Kant. Konsekuensialis justru menegaskan bahwa suatu tindakan itu dapat dinilai baik bila menyebabkan kebahagiaan bagi individu serta orang-orang disekitarnya. Motif terhadap apa yang dianggap menyebabkan kebahagiaan dianggap oleh kaum konsekuensialis menjadi dasar dari suatu perbuatan moral.

IMMANUEL KANT DAN ETIKA KEWAJIBAN


Dalam karyanya Critique of Practical Reason, Immanuel Kant membahas secara filosofis tentang apa yang dimaksud dengan moral. Prinsip moral dapat muncul dari berbagai sumber, diserap dari nilai-nilai agama, kaidah norma masyarakat, maupun dari hukum yang dibuat oleh negara. Hal-hal ini dapat menjadi referensi bagaimana seseorang bertingkah laku dan membedakan manakah baik dan buruk. Tetapi bagi Immanuel Kant, sikap etis tidak datang dari luar individu tersebut. Mengapa demikian? Ini berkaitan erat dengan era dimana Kant mempopulerkan filsafatnya, ia selalu berkata Sapere Aude! Bila diterjemaahkan, berarti beranilah berpikir secara mandiri, semangat ini tercermin juga didalam filsafatnya.

FUNGSI DAN KEGUNAAN ETIKA


Etika sebenarnya tidak secara langsung mengharuskan orang mengikuti hasil analisisnya. Hal ini dikarenakan etika sebagai bagian dari filsafat menekankan jika seseorang menyadari bahwa secara etis lebih baik untuk melakukan sesuatu, maka akan menjadi tidak rasional untuk orang tidak melakukannya. Artinya tidak ada intensi dari etika untuk menekan orang untuk melakukan suatu tindakan atau keputusan etis sesuai dengan pedoman-pedoman tertentu. Akan tetapi, ada kegunaan dari etika dapat dirumuskan.