JENIS-JENIS KECERDASAN: INTELIGENSI DAN IQ


Berbagai penelitian ilmu pengetahuan telah mengindikasikan bahwa otak meregulasi perilaku. Broca (19..), misalnya, menemukan bahwa pasien dengan gangguan pada bagian …… otaknya mengalami kesulitan bicara. Neuroscience meneruskan tradisi penelitian ini. Disiplin ilmu ini menemukan antara lain perilaku kreativitas, bermusik, matematika dan sebagainya merupakan hasil aktivitas bagian otak tertentu. Aktivitas-aktivitas tersebut dapat terjadi dan semakin baik sebagai hasil belajar, dan proses belajar ini disebutkan merupakan sebuah proses akibat fungsi inteligensi.

Mungkin akan lebih mudah bila kalau dianalogikan dengan komputer. Sebagaimana diketahui komputer terdiri dari dua komponen; perangkat keras dan perangkat lunak. Komponen kerasa adalah semua benda fisik komputer, termasuk keping prosesornya. Perangkat keras ini kemudian diisi dengan dua tingkat program (perangkat lunak). Pertama, program yang disebut sebagai sistem operasi (operating system), misalnya: Windows 7, Linux, OS X. sistem operasi merupakan program yang berisi aturan umum. Setelah sistem operasi diisi (di-install) ke dalam komputer, kita dapat mengisinya dengan program tingkat kedua yang disebut software. Software adalah program dengan fungsi khusus seperti: MS Office Word untuk mengetik, Excel untuk membuat spreadsheet, Adobe Photoshop untuk manipulasi arsip gambar, SPSS untuk analisis statistik dan lain-lain.

Berdasarkan analogi tersebut, tubuh kita dapat diangaikan sebagai komputer, otak adalah keping prosesor dan inteligensi adalah sistem operasinya, yang memungkinkan kita meng-install berbagai kemampuan yang memungkinkan munculnya berbagai tingkahlaku manusia, seperti menggubah drama Romeo dan Juliet, membangun Borobudur, merumuskan E=mc2 dan lain sebagainya. Dengan demikian sistem operasi –sistem aturan umum– yang memungkinkan semua tingkah laku ini terjadi adalah inteligensi.
 

INTELIGENSI DAN IQ
Inteligensi menjadi sangat populer dibicarakan sejak awal abad ke duapuluh, sejak Alfred Binet dan Theodore Simon mengembangkan pengukuran inteligensi modern pertama. Konsep inteligensi sendiri berpangkal pada pandangan Darwin mengenai survival of the fittest, dimana spesies yang bertahan adalah spesies yang memiliki kemampuan adaptasi yang terbaik. Maka sejak saat itu banyak penelitian yang diarahkan pada kemampuan beradaptasi pada manusia. Manusia yang unggul adalah manusia yang mampu beradaptasi dengan lebih baik. Kemampuan beradaptasi inilah yang disebut sebagai inteligensi. Dalam buku The Science of Psychology, King (2011) mendefinisikan inteligensi sebagai:

All-purpose ability to do well on cognitive tasks, to solve problems, and to learn from experience.
King; 2011; 253

Inteligensi dianggap sebagai kemampuan menggunakan kognisi untuk memecahkan masalah dan beradaptasi dengan tuntutan lingkungan, yang dipelajari dari pengalaman. Pengukuran inteligensi dilakukan mula-mula untuk kepentingan merekut tentara, kemudian untuk kepentingan mendapatkan orang yang tepat dalam pendidikan dan perusahaan. Hasil pengukuran inteligensi biasanya disebut sebagai IQ (intelligence quotient). Kemampuan yang dianggap paling penting untuk berhasil dalam bidang-bidang tersebut adalah kemampuan analisis. Maka pengujian inteligensi saat itu umumnya berupa pengujian kemampuan analisis.

Semula para ahli dalam bidang inteligensi menganggap hanya ada satu macam inteligensi, dan satu kemampuan itu bertanggung jawab atas semua keberhasilan individu. Pandangan ini umumnya beranggapan bahwa kemampuan analitikal adalah kemampuan tunggal tersebut. Pandangan ini bertahan cukup lama, dan berbagai seleksi untuk penempatan dalam bidang pendidikan umumnya didasarkan pada kemampuan dalam bidang tersebut. Seseorang dianggap pandai bila kemampuan analitikalnya tinggi. Pendidikan, pada umumnya, memang ditekankan pada kemampuan analitikal, sehingga siswa-siswa yang berhasil biasanya memang mereka yang memiliki kemampuan analitikal yang tinggi.

Pertanyaan yang seringkali muncul adalah mengapa seringkali siswa yang unggul di sekolah, setelah terjun dalam masyarakat tidak lagi menunjukkan keunggulannya, sebaliknya mereka yang tidak unggul dalam pendidikan seringkali menunjukkan keunggulan dalam masyarakat. Sternberg menjelaskan masalah ini bahwa kecerdasan tidak hanya satu macam. Menurut Sternberg, ada tiga macam inteligensi yaitu Analytical Intelligence (Kecerdasan Analitikal), Practical Intelligence (Kecerdasan Praktikal), dan Creative Intelligence (Kecerdasan Kreatif). Inteligensi Analitikal banyak dirangsang di sekolah, oleh karena itu yang untuk berhasil di sekolah siswa membutuhkan Kecerdasan Analitikal, namun dalam kehidupan di masyarakat yang dibutuhkan adalah Kecerdasan Praktikal. Bila sekolah tidak mengembangkan kecerdasan jenis ini, maka sulit mengharapkan individu berhasil saat telah terjun dalam masyarakat.

Sejak akhir abad duapuluh penelitian berbagai ahli yang memusatkan perhatiannya pada masalah kecerdasan menemukan ada beraneka ragam inteligensi. Seorang tokoh yang saat ini teorinya sangat populer adalah Gardner dari Harvard. Gardner mengajukan teori Multiple Intelligence (Kecerdasan Majemuk). Konsep kecerdasan menurut Gardner (1999) adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan produk/karya yang bernilai bagi masyarakatnya. Oleh karena itu tidak hanya ada 1 macam Inteligensi. Dalam bukunya Frame of Mind, Gardner (1983) mengajukan delapan macam kecerdasan yakni; kecerdasan linguistik, matematik-logikal, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, iontrapersonal, dan naturalistik. Pada tahun 1999, dalam bukunya Intelligence Reframed: Multiple Intelligences for the 21st Century, Gardner (1999) telah menegaskan Naturalistik sebagai sebuah kecerdasan dan menambahkan secara tentatif duakecerdasan loain: kecerdasan Eksistensial serta Spiritual.

Orang dapat sukses melalui kecerdasan yang berbeda, tidak hanya melalui kecerdasan analitik saja. Kita mengenal orang-orang yang sukses dalam bidang musik walaupun prestasinya di sekolah hanya pas-pasan saja misalnya. Ada pula yang memiliki prestasi yang luar biasa di sekolah namun selalu canggung dalam berhadapan dengan orang lain. Berpegang pada pendapat inteligensi ganda paling tidak ada dua pilihan yang dapat ditempuh, fokus pada kecerdasan yang menjadi kekuatan kita, seperti Anggun C. Sasmi yang sejak sangat muda menetapkan untuk meninggalkan bangku sekolah dan fokus pada pengembangan karirnya di bidang musik, atau justru berusaha mengembangkan kemampuan-kemampuannya secara merata, termasuk kemam¬puan¬nya yang terlemah. Idealnya saat anak masih sangat muda, saat belum terlihat kemam¬puannya yang paling menonjol, sebaiknya diberikan berbagai macam rangsangan agar semua kemampuannya dapat berkembang secara optimal, dan dapat dikenali letak kekuatannya.


Artikel ini dapat dicopy-paste atau disebarluaskan. Namun, selalu cantumkan http://darikelas.blogspot.com/ sebagai sumber artikel.
  
Jadilah seorang pembaca yang baik dengan memberi komentar setelah membaca artikel ini. Kontribusi Anda dapat membantu kami untuk mengembangkan blog ini.

Terima kasih telah berkunjung ke Dari Kelas.
 
Like Facebook Page dan Follow Twitter-nya ya.
Twitter: @darikelas
Facebook: Dari Kelas

0 komentar:

Posting Komentar