TERM, DIVISI, DAN DEFINISI DALAM DASAR-DASAR LOGIKA


TERM

Setiap hal yang diinderai dan dipersepsi dibentuk oleh pikiran menjadi ide. Hasil dari pembentukan ini adalah konsep. Setiap konsep ditandakan dalam bentuk term. Rangkaian term yang bermakna adalah pernyataan. Term dan pernyataan merupakan bagian dari bahasa. Bahasa adalah sarana bagi manusia untuk menyampaikan kepada orang lain dan menerima ide dari orang lain.

Term merupakan tanda untuk menyatakan suatu ide yang dapat diinderai (sensible) sesuai dengan pakat (conventional). Tanda itu dapat bersifat formal dan  instrumental. Tanda formal digunakan berdasarkan kesamaan antara tanda dan yang ditandai seperti gambar, potret,  film, dan huruf  hieroglif. Tanda instrumental digolongkan atas dua, yakni tanda alamiah dan tanda konvensional. Tanda alamiah digunakan berdasarkan kaitan alamiah antara tanda dan yang ditandai, misalnya asap menandai api,  rasa sakit menandai gangguan pada tubuh, dan tangis menandai kesedihan. Tanda konvensional  digunakan berdasarkan kesepakatan sejumlah orang tertentu pada waktu tertentu, misalnya sandi Morse, tanda lalu-lintas, dan bahasa.

Secara umum term adalah tanda yang didasarkan pada kelaziman, bukan tanda alamiah. Hal ini terlihat dari adanya berbagai bahasa di dunia. Jika semua term bersifat alamiah maka akan terdapat hanya satu bahasa di dunia. Tetapi kita melihat bahwa untuk hal yang sama, bahasa-bahasa menggunakan term-termnya sendiri. Sebagai contoh, untuk term ‘kursi’ bahasa Indonesia memakai kursi, bahasa Inggris chair, dan bahasa Belanda stuhl.

Suatu term sering kali mempunyai bermacam-macam arti. Jika dikelompokkan, setidaknya ada tiga jenis makna term dan penggabungannya dalam kalimat, yakni makna denotatif, makna kesan (sense), dan makna emotif. Makna denotatif  merujuk kepada satu arti yang tertera dalam kamus; sering disebut makna sesungguhnya, namun penentuan ‘makna sesungguhnya’ ini dilakukan berdasarkan kesepakatan. Makna kesan (sense) ialah makna term berdasarkan penggabungannya dengan kata lain; dalam hal ini term dapat memiliki makna lain, misalnya penggunaan term hati pada kalimat “Saya sakit hati” berbeda dengan “Semur hati itu enak sekali”. Makna emotif ialah makna term yang didasarkan pada perasaan atau emosi, sikap--baik secara tersurat maupun secara tersirat. Term keras hati secara denotatif memiliki makna yang sama dengan keras kepala, namun keras hati sering kali diartikan sebagai ‘teguh’ atau ‘tahan godaan’, sedangkan keras kepala sering diartikan sebagai  ‘tidak mau mengalah’ atau ‘tidak mau mendengarkan orang lain’.


DEFINISI

Untuk menyamakan pengertian dan menghindari kesalahan penafsiran terhadap term diperlukan definisi. Di samping itu, definisi juga diperlukan untuk dapat memahami sebuah kalimat secara jelas dan sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan. Definisi adalah pernyataan yang menerangkan hakikat suatu hal. Definisi menjawab pertanyaan, “Apakah itu?” Untuk dapat mendefinisikan suatu term kita harus tahu persis tentang hal yang didefinisikan.

Kendala yang sering muncul dalam pembuatan definisi adalah keterbatasan pengetahuan dan keterbatasan term. Keterbatasan pengetahuan sering menghasilkan definisi yang terlalu luas. Keterbatasan term memungkinkan penggunaan term yang sama untuk mewakili hal yang berbeda. Kedua kendala ini menyebabkan sulit  dicapai definisi yang 100% menjelaskan hal yang hendak didefinisikan.

Penggolongan Definisi
Menurut kesesuaiannya dengan hal atau kenyataan yang diwakilinya ada dua jenis definisi, yakni definisi nominal (definisi sinonim) dan definisi real (definisi analitik). Definisi nominal ialah definisi yang menerangkan makna kata seperti yang dimuat dalam kamus, misalnya introspeksi berarti ‘menilai diri sendiri’, inspeksi ‘memeriksa’, dan kursi ‘tempat duduk’. Definisi real adalah definisi yang menerangkan arti hal itu sendiri. Pembuatannya menuntut dilakukannya analisis terhadap hal yang akan didefinisikan terlebih dahulu. Sebagai contoh, sikap adalah ‘kecenderung memberikan tanggapan secara positif atau negatif terhadap objek tertentu’ dan HP adalah ‘daya gerak yang ada dalam mesin yang dinyatakan dengan daya gerak seekor kuda’.

Definisi real dibedakan atas dua, yakni definisi esensial dan definisi deskriptif. Definisi esensial menerangkan inti (esensi) dari suatu hal dengan menyebutkan genus dan diferentia-nya.  Genus adalah kelompok besar atau kelas dari hal yang akan dijelaskan, sedangkan diferentia adalah ciri khas yang hanya ada pada hal yang didefinisikan. Ciri khas inilah yang membedakan suatu hal dengan hal lain dalam genus atau kelompok yang sama. Sebagai contoh, dalam “Manusia adalah makhluk rasional”, makhluk adalah genusnya dan rasional adalah diferentia spesifiknya.  Definisi ini adalah definisi yang ideal dan mendekati pengertian hal yang hendak didefinisikan.

Definisi deskriptif mengemukakan segi-segi yang positif tetapi belum tentu esensial mengenai suatu hal. Definisi deskriptif dibedakan atas empat, yakni definisi distingtif, definisi genetik, definisi kausal, dan definisi aksidental. Definisi distingtif  menunjukkan properti, misalnya “Oksigen adalah gas yang tak berwarna, tak berbau, tak mempunyai rasa, 1105 kali dari berat udara, dan mencair pada suhu di bawah -115 derajat  C”. Definisi genetik menyebutkan asal mula atau proses terjadinya suatu hal, misalnya “Air adalah zat yang terjadi dari gabungan 2 atom Hidrogen dan 1 atom oksigen,” dan “Lingkaran adalah bentuk geometris yang terdiri dari garis-garis lurus yang sama panjang yang terletak pada bidang datar dan berawal dari satu titik pusat”. Definisi kausal menunjukkan penyebab atau akibat dari sesuatu hal, misalnya “Lukisan adalah gambar yang dibuat oleh seorang seniman”, dan “Arloji adalah alat penunjuk waktu”.  Definisi aksidental tidak mengandung hal-hal yang esensial dari suatu hal, misalnya “Dijual
rumah. Luas tanah 170 m2. Bangunan bertingkat dan pekarangan tertata rapi. Lokasi: Jln. Macan No. 30 Jakarta Pusat. Dilengkapi telepon dan AC. Lingkungan nyaman, aman, dan tentram”.

Definisi real jarang dapat tercapai sepenuhnya karena sering kali ada karakteristik yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kadang-kadang perumusannya terkendala karena kurangnya pengetahuan si pembuat definisi. Ada term yang tidak dapat didefinisikan karena berhubungan langsung dengan indera, misalnya manis,  pahit, dan sakit.  Ada juga term yang sulit didefinisikan karena sangat umum, misalnya ada  (hanya dapat didefinisikan dengan cara membandingkannya dengan tidak ada yang merupakan term di luar term yang didefinisikan). Contoh lain ialah satu, benda,  dan hal.

Di samping definisi yang telah diuraikan di atas, ada juga definisi yang dibuat dengan menggunakan contoh, misalnya “Minuman yang sehat itu, di antaranya ialah air dan hasil perasan buah segar”. Pernyataan seperti ini sebenarnya kurang memadai sebagai definisi karena tidak mencakup keseluruhan ide yang terkandung dalam term atau hal yang didefinisikan.

Aturan Membuat Definisi
Pembuatan definisi yang memadai untuk digunakan dalam pemikiran logis harus mengikuti aturan-aturan berikut ini. Pertama, definisi harus lebih jelas dari yang didefinisikan; jika tidak, maka definisi akan kehilangan fungsinya. Untuk itu harus diperhatikan catatan-catatan berikut ini. Term-term yang muluk seperti contoh berikut, “Manusia adalah alam semesta yang mengejawantah” dan “Kewibawaan adalah pancaran nurani dan kedigjayaan manusia”  harus dihindari. Demikian pula term-term yang sulit dimengerti (tidak lazim), misalnya definisi pemimpin berikut ini yang diberikan kepada orang yang bukan penutur bahasa Jawa, “Pemimpin adalah orang yang bersifat ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani”.

Kedua, definisi tidak boleh mengandung ide atau term dari yang didefinisikan seperti pada contoh “Binatang adalah hewan yang mempunyai indera” dan “Emosi adalah gejolak perasaan”. Definisi semacam ini disebut definisi sirkular (circular definition).

Ketiga, definisi dan yang didefinisikan harus dapat dibolak-balik dengan pas, misalnya  “Buku adalah sejumlah kertas yang terjilid”.  Kalau dibalik, “Sejumlah kertas yang terjilid adalah buku”. Contoh yang salah ialah “Kecap adalah penyedap masakan”. Jika urutannya dibalik menjadi, “Penyedap masakan adalah kecap” maka pernyataan itu menjadi salah karena penyedap makanan belum tentu kecap.

Keempat, definisi harus dinyatakan dalam kalimat positif. Kalimat ingkar atau negatif seperti “Gembira adalah keadaan tidak sedih” atau “Manusia bukan binatang” tidak memenuhi syarat definisi.

Dalam tulisan jenis sastra ada kekecualian dalam pembuatan definisi karena pendefinisian di situ umumnya bukan dalam rangka menjelaskan hal tertentu secara harafiah, melainkan untuk memberi kesan tertentu. Sastra juga memakai teknik gaya bahasa yang tidak harus mengikuti tata cara pembuatan definisi tersebut di atas. Tulisan-tulisan retorika yang mementingkan makna sense dan pengaruh tulisan terhadap pembaca atau pendengar juga tidak harus mengikuti tata cara pembuatan definisi itu.


DIVISI

Selain dapat dijelaskan apa artinya, term juga dapat diuraikan dengan kriteria tertentu menjadi bagian-bagian. Penguraian term itu biasa disebut divisi. Divisi adalah uraian suatu keseluruhan ke dalam bagian-bagian berdasarkan satu kesamaan karakteristik tertentu. Pembagian dalam bentuk divisi merupakan upaya lain untuk menjelaskan term. Ada beberapa jenis divisi, yakni divisi real (atau aktual) dan divisi logis.

Divisi Real atau Aktual
Penguraian dengan divisi real atau aktual dilakukan berdasarkan bagian-bagian yang ada pada objek itu sendiri—baik fisik maupun metafisik—terlepas dari aktivitas mental manusia. Divisi berdasarkan bagian fisik dilakukan berdasarkan faktor-faktor fisik yang dapat dipisahkan, satu dari yang lain. Bagian itu dapat berupa bagian yang esensial atau bagian yang integral. Bagian-bagian yang essensial ialah bagian-bagian yang harus lengkap. Jika salah satu di antaranya hilang maka hilang pula eksistensi keseluruhannya, misalnya “Manusia terdiri dari badan dan jiwa”, “air terdiri dari oksigen dan hidrogen”, “garam dapur terdiri dari sodium dan klorin”, dan “mobil terdiri dari mesin dan ‘tubuh’”. Bagian-bagian yang integral ialah bagian-bagian yang tidak harus lengkap. Jika salah satu anggotanya hilang, hal itu tidak mlenyapkan eksistensi atau esensi halnya. Bagian yang integral terbagi atas dua, yakni yang homogen dan yang heterogen. Bagian-bagian yang homogen ialah segolongan unsur yang menjadi bagian dari sesuatu hal, misalnya “Air terdiri dari titik-titik”, “Api terdiri dari percikan-percikan”, dan “Pasir terdiri dari butir-butir”. Sementara itu, bagian-bagian yang heterogen ialah bagian-bagian—yang tidak segolongan—dari sesuatu hal, misalnya “Manusia terdiri dari kaki, tangan, dan mata”, dan “Masyarakat terdiri dari golongan kaya dan miskin”.

Divisi berdasarkan bagian metafisik dilakukan berdasarkan bagian-bagian yang merupakan esensi dari sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena dalam kenyataannya bagian-bagian itu merupakan ketunggalan, misalnya “Manusia terdiri dari rasio,  indera,  nyawa, dan tubuh”.  Bagian-bagian ini tidak terpisahkan. Dalam pembuatan divisi real sebaiknya dilakukan observasi, analisis, dan abstraksi terhadap hal yang akan diuraikan. Observasi, analisis, dan abstraksi ini diperlukan untuk memahami hal yang akan diuraikan sehingga penguraiannya tidak bertentangan dengan kenyataan dari hal itu.

Divisi  Logis
Dalam divisi logis mental manusialah yang membagi keseluruhan hal  menjadi bagian-bagian. Kita menambahkan unsur-unsur tertentu kepada suatu hal untuk menjadikannya kelas atau sub-kelas, misalnya “Hal”, “Hal yang hidup”, “Hal hidup yang berindera  (= hewan)”, “Hal hidup yang berindera dan berakal  (= manusia)”. Kegiatan menambahkan elemen-elemen ini, yang merupakan kegiatan dari divisi logis, disebut sintesis.

Aturan  Pembuatan  Divisi
Divisi harus dibuat memadai; artinya, jumlah semua bagian harus sama dengan keseluruhan. Ada sejumlah aturan yang harus diikuti dalam pembuatan divisi.
  1. Tidak boleh ada bagian yang terlewati.
  2. Bagian tidak boleh melebihi keseluruhan.
  3. Tidak boleh ada bagian yang meliputi bagian yang lain.
  4. Divisi harus jelas dan teratur.
  5. Jumlah bagian harus terbatas;  kalau kebanyakan akan kacau.  Jika diperlukan,  dibuat sub-bagian.

Berikut adalah contoh  divisi yang salah, “Pengguna terminal terdiri dari pengendara kendaraan bermotor, supir kendaraan umum, pengendara kendaraan tak bermotor, mahasiswa/pelajar, pedagang kaki lima, ibu rumah tangga, pejalan kaki, penumpang kendaraan umum, dan karyawan.” Pembagian divisi ini salah karena hal-hal berikut ini. Pertama, ada bagian yang terlewati (petugas terminal juga menggunakan terminal sebagai tempat kerjanya). Kedua, ada bagian yang meliputi bagian yang lain (mahasiswa bisa saja sekaligus pengendara kendaraan bermotor atau tak bermotor; penumpang kendaraan umum bisa saja sekaligus mahasiswa/pelajar, ibu rumah tangga, dan karyawan). Ketiga, dasar pembagiannya tidak jelas (apakah berdasarkan jenis pekerjaan, lama atau sebentarnya di jalan, atau penggunaan kendaraan?). Keempat, jumlah bagian terlalu banyak.


Artikel ini dapat dicopy-paste atau disebarluaskan. Namun, selalu cantumkan http://darikelas.blogspot.com/ sebagai sumber artikel.
  
Jadilah seorang pembaca yang baik dengan memberi komentar setelah membaca artikel ini. Kontribusi Anda dapat membantu kami untuk mengembangkan blog ini.

Terima kasih telah berkunjung ke Dari Kelas.
 
Like Facebook Page dan Follow Twitter-nya ya.
Twitter: @darikelas
Facebook: Dari Kelas

0 komentar:

Posting Komentar